Jika Masih Bisa Bekerja, Mengapa Harus Mengemis??

Ini adalah kisah nyata yang saya lihat dari salah satu televisi. Begini ceritanya:

Jauh-jauh dari kota, aku pulang menuju desaku, tempat ayah dan ibuku berada. Aku bekerja di Jakarta. Gaji saya hanya segitu saja. Walaupun segitu, aku bersyukur karena masih bisa hidup dan mencukupi kebutuhan keluarga.
Aku hanyalah wanita biasa. Kadang aku selalu merasa dunia ini tidak adil. Karena begitu banyak hal-hal yang tidak aku kehendaki menghancurkan hidupku dan keluargaku, sedangkan orang lain selalu tersenyum dengan kehidupan mereka. Aku sangat IRI sekali dengan orang-orang seperti itu. Orang-orang kaya yang mempunyai harta melimpah. Dan hidupnya sangat mewah.
Aku ini wanita yang lemah, selalu kasihan melihat orang-orang tak berdaya, yang selalu mengemis di tiap jalanan Jakarta. Seandainya aku KAYA, aku pasti akan memberikan mereka pekerjaan. Namun aku tidak bisa. Kadang aku pun masih susah untuk membahagiakan orang tua, apalagi untul mereka? Sungguh menyedihkan. Apakah dunia sekejam itu?
Ketika aku pulang menuju desa yang tak jauh dari Jakarta, aku naik dan oper ke beberapa angkot. Aku naik mikrolet. Aku berada di belakang si supir angkot tersebut. Dan aku hanya sendirian di angkutan tersebut. Ketika si supir bertanya, "Mau kemana, mbak?", aku menjawabnya, "Mau ke daerah cibubur, pak. Nanti akan saya kasih tau tempatnya kalau sudah sampe di sana."
Pada saat berhenti di lampu merah, aku melihat seorang pengemis mendekatiku dan memohon sedekah buatnya. Sungguh kasihan dia. Hatiku sangat terpukul melihatnya. Dengan segenap hati aku hendak mengambil beberapa uang dan memberikannya untuk pengemis itu. Tapi, Si Supir berteriak,
"TIDAK USAH DIKASIH, MBAK!!"
Aku tersentak kaget ketika mendengarnya, dan aku menarik kembali uangku. Dengan nada heran dan sebal aku bertanya padanya,
"HAI PAK, MENGAPA ANDA MELARANG SAYA UNTUK MEMBERIKAN UANG INI PADANYA??"
Lalu supir itu menjawab,
"SEBAIKNYA JANGAN, MBAK, KARENA JIKA MASIH BISA BEKERJA,  MENGAPA HARUS MENGEMIS???? SAYA TIDAK SUKA ORANG PENGEMIS!"
Aku langsung marah kepadanya,
"BAPAK INI JAHAT SEKALI YA JADI SUPIR ANGKOT??!!"
Setelah itu aku diam, heran dan kebingunan mendengar ucapnya. Lalu aku melihat pengemis itu menunduk dan pergi dari angkut tersebut. Kemudian lampu hijau menyala, dan akhirnya angkot itu jalan lagi.
Aku merasa bersalah mengingat pengemis yang tadi. Mengapa supir itu jahat sekali terhadapnya? Aku benar-benar ingin memarahinya.
Setelah beberapa menit, si supir meminta waktu sebentar untuk ke pom bensin, karena bensin hampir habis.
"SEBENTAR MBAK, SAYA MAU MENGISI BBM DULU"
Aku menunggu sebentar, dan ketika si supir keluar dari mobil, aku tersentak kaget.

Supir itu hanya mempunyai KAKI KANAN saja, kaki kirinya hanya selutut. Supir itu CACAT.
 
Ya Allah... Aku sungguh kasihan melihatnya, tapi aku juga sungguh salut kepadanya, karena walaupun dengan kaki kanan saja, beliau masih bisa bekerja. Aku jadi sadar mengapa aku tidak diperbolehkan memberi uang kepada pengemis tersebut. Air mataku keluar dengan sendirinya karena merasa sangat menyesal telah memarahinya. Ketika aku sudah sampai di tempat, aku turun, dan aku memberikan uang 100.000 rupiah kepada sopir tersebut. Lalu si supir bertanya,
"Mbak. Maaf, apakah tidak ada uang kecil? Karena saya tidak ada kembaliannya. Ongkosnya cuma 3.000 kok mbak."
"Enggak usah pak, Ambil saja. Saya ikhlas."
"Loh. Tidak bisa mbak, saya jadi ngak enak ini"
"Ah. Tidak apa-apa kok pak. Anggap saja itu sebuah ucapan terima kasih dari saya."
"Hah? Terima kasih untk apa mbak?"
"Terima kasih karena bapak sudah menyadarkan saya, bahwa JIKA MASIH BISA BEKERJA, KITA TIDAK HARUS MENGEMIS."

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA POSTING DI ATAS. JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK DI KOMENTAR YA? ^_^

Post a Comment

Mohon Untuk Tidak Mencantumkan Nama Anonim Anda. Terima Kasih.